November 19, 2018

HUKUMAN YANG TIDAK TERASA

Posted by - 1 comments
Seorang murid mengadu kepada gurunya:

“Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”.



Sang Guru menjawab dengan tenang:
“Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”.



“Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: Sedikitnya taufiq (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”.



Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari “kekerasan hatinya dan kematian hatinya”



Sebagai contoh:

Sadarkah engkau, bahwa Allah telah mencabut darimu rasa bahagia dan senang dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di harapannya..?



Sadarkah engkau tidak diberikan rasa khusyu’ dalam shalat..?



Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur'an, padahal engkau mengetahui firman Allah:
“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur'an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”.



Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur'an, seakan engkau tidak mendengarnya…



Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang…



Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..??



Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..???
Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..???



Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo'a kepadanya..???



Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..???



Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..???



Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..???



Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..???



Semua bentuk pembiaran ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya…



Waspadalah wahai sahabatku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban.



Karena hukuman yang paling ringan dari Allah terhadap hambaNya ialah:
“Hukuman yang terasa” pada harta, atau anak, atau kesehatan.



Sesungguhnya hukuman terberat ialah: “Hukuman yang tidak terasa” pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa._



Karena itu wahai sahabat2ku, Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…



(Diterjemahkan dari Taushiyah Syaikh Abdullah Al-‘Aidan di Masjidil Haram)

May 28, 2016

Jika benar cinta, Pasti bisa

Posted by - 0 comments
Apabila suami dan isteri masing-masing sibuk soal hak ,
Makin hilanglah erti ikhlas khidmat dalam rumahtangga...
Ajaran 'Cinta' kontemperori, terdidik dari drama dan movie.
Mengajar si suami menjadi egois.
Mahu layanan umpama raja.
"Kamu isteri, mesti buat semua. Aku suamimu, taat!"
Mengajar si Isteri menjadi sinis.
Mahu dilayan umpama pemaisuri.
"kamu suami, mesti mengerti. Aku bukan orang gaji!"
Anak-anak...? Makin bingung utk mengerti.
"Perkahwinan sebenarnya untuk apa...?"
Dunia semakin tenat,
Panduan membina rumahtangga banyak dibina dari pentas cerita, cuma berdasarkan logik akal semata. Kita ditegaskan hak dalam menerima hingga lupa tugas untuk memberi. Kita dididik tegakkan tiang ekonomi hingga lupa pada binaan tiang agama dalam keluarga.
Untuk bahagia, pasanganku mesti beri terbaik!
Untuk tenang, ekonomi keluargaku mesti hebat!
Tidak ada sabar dan syukur.
Jika begitu, tidak hairanlah asyik berbalah, simpan dendam dan marah-marah. Walaupun cinta tapi terus bermasam muka.
Walaupun makin kaya tapi terus dahaga.
Apabila melakukan sesuatu demi makhluk, Hilanglah ikhlas si suami mencari rezeki, hilanglah ikhlas si isteri menjaga keluarganya...
Kita lupa,
Yang beri bahagia dan tenang, hanya Allah SWT.
Bagaimana mahu bahagia, Andai rumah tangga dibina hanya didasari dunia? Bagaimana mahu tenang, Andai cara hidup kita jauh dari Sunnah Rasulullah...?
Ayuh muhasabah sama-sama. Agar kebersamaan kita bersama pasangan, sebagai keluarga tidak terus sia-sia... :')
Tujuan utama perkahwinan supaya kita semakin dengan dgn Allah dan Rasulullah. Sebagai suami, kenal amanahnya untuk memimpin ahli keluarga masuk ke syurga Allah. Sebagai isteri, faham usahanya untuk bawa ahli keluarga pada agama Allah.
Bila belajar mengerti hakikat itu, Kita akan lebih banyak memberi daripada meminta kerana yakin segalanya dari Allah dan dilakukan untuk Allah. Suami Isteri yang ikhlas dalam memberi khidmat & melaksana tugas seharian, semuanya dilakukan penuh cinta. Dapat pulangan atau tidak, semuanya dikembalikan pada Allah. Bukankah sudah hakikatnya, makhluk terlalu lemah untuk menghargai kita?
Percayalah, buat apapun bila kerana cinta dan sayang, tidak akan ada penat. Buat sesuatupun dengan ikhlas dan tulus, tidak akan ada sakit hati.
InShaaAllah...
Jom, amalkan Sunnah Nabi SAW dalam rumahtangga.
- Sentiasa berkasih sayang
( Berakhlak baik, Suka untuk mendengar, Sentiasa senyum.)
- Ta'alim
(mengajar dan belajar : halaqah tajwid & kitab , kenalkan Sifat Nabi Muhammad SAW, Kisah Keluarga & Sabahat Baginda dan sbgnya)
- Ibadah
( Hidupkan suasana Quran, Jaga Solat : Awal waktu dan solat2 sunat, Amalkan zikir,selawat serta Istigfar)
- Dakwah
( Ingat memperingati )

March 9, 2016

5 THINGS YOU NEED TO KNOW ABOUT NIQABIS (WITH GIFs)

Posted by - 0 comments
1- Do you bath with your Niqab? 


No really, we do get this question a lot.
Besides being a major face-palm moment, the answer is no; we have a bath like all human beings do.
Some also assume that Niqabis have the Niqab on all round the clock too. We wear the Niqab only when we’re out of our homes or in the presence of any men other than our immediate family. 


2- Oooooh, here comes a Darthvader! 

Oh, we get that a lot!! From being called Death Eaters, Darth Vader, Ninja, Osama Bin Laden’s wife and in some instances, mothers use our mere presence to try and terrorize their children into submissiveness (poor kids, we love you!) and they expect us to be terrified…




… but we are not. Most of the time, when we do come across such pleasant behaviour, our expressions tend to be more like this:



Try something new people, we are bored!


3-  Niqabis are dominated by their men and live like caveman


Ahhh, the age-old allegation against the Niqab. Everyone “assumes’ that the men in our lives forced the Niqab on us. That the men in our lives dictate how we live, the men in our lives force us to live like slaves, yada, yada, yada…. We even had people asking us if we were using the internet without our fathers knowing! Seriously, people!

And no matter how many time we Niqabis scream ourselves hoarse saying that the Niqab is OUR choice, nothing in our lives is forced on us; we work if we want too, we study is we want too, we choose who we want to get married too, we wear what we want too, people conveniently ignore us and think themselves clever in assuming that we are oppressed and live like the Croods, er, cavemen….And as for us Niqabis not being able to use technology, well, you wouldn’t have all these Niqabi blogs and Twitter accounts if we were not allowed to use technology, right? Honestly, my father has a hard time prying me away from the computer most of time. 



But certain folks go far as to say: “Ah but you are not a woman, you are a maniac man masquerading as a woman and tweeting about the Niqab because you want the women to be subservient to you…”
                                        
Clever, real clever… 




4- Niqabis are restricted, oppressed and are not permitted to have fun


Au Contraire my friend... we do have fun, LOTS of fun! The only thing is we have fun with only those who are close us instead of random people… Our Niqab is and never will be a barrier for us having fun!



5- If you have a question ask. We don't bite! 



Niqabis are very nice people so if you have a doubt about the Niqab or Islam in general, ask us instead of happily assuming. We’ve had a lot of tweets about how people say that Niqabis are unapproachable because we’re covered.  It's just an extra bit of clothing people, I've not built a brick wall around me! Le sigh.....







* This is a guest post from my sister and as a side note, all the GIFs used are not depicting Niqabis in any way, but just used to lighten up the post. (She had a really hard time getting the appropriate GIFs by the way)


- niqablovers.blogspot

January 24, 2016

Apa Erti Menjadi Isteri Solehah

Posted by - 0 comments
Suami yang dicintai...
Apa erti menjadi isteri solehah. Pelbagai pandangan dan jawapan mampu kita tafsirkan, samada melalui pembacaan, perbincangan dan perkongsian pengalaman. Kita menyingkap kembali sejarah Nabi Ibrahim sewaktu baginda menziarahi menantunya. Pada  waktu itu, puteranya, Nabi Ismail tiada di rumah sedangkan isterinya belum pernah  bertemu  bapa  mertuanya, Nabi  Ibrahim.
Apabila  sampai  di rumah anaknya itu, terjadilah  dialog  antara Nabi Ibrahim dan menantunya.
Nabi Ibrahim :  Siapakah kamu?
Menantu :  Aku isteri Ismail.
Nabi Ibrahim :  Di manakah suamimu, Ismail?
Menantu :  Dia pergi berburu.
Nabi Ibrahim :  Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga?
Menantu : Oh, kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak  pernah senang dan lapang.
Nabi Ibrahim :  Baiklah!  Jika suamimu  balik,  sampaikan  salamku padanya. Katakan padanya, tukar  tiang  pintu rumahnya (sebagai kiasan supaya   menceraikan isterinya).
Menantu :  Ya, baiklah.
Setelah Nabi  Ismail  pulang  daripada  berburu,  isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.
Nabi Ismail : Adakah apa-apa yang ditanya oleh orang tua itu?
Isteri :  Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail :  Apa jawapanmu?
Isteri :  Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup  kita ini selalu dalam kesempitan, tidak pernah senang.
Nabi Ismail :  Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri :  Ya ada. Dia berpesan supaya aku menyampaikan  salam kepadamu serta meminta kamu menukarkan tiang  pintu rumahmu.
Nabi Ismail :  Sebenarnya  dia  itu  ayahku.  Dia  menyuruh  kita berpisah. Sekarang  kembalilah  kau  kepada keluargamu.
Ismail  pun  menceraikan isterinya  yang  suka  merungut,  tidak bertimbang  rasa serta tidak bersyukur kepada takdir   Allah  SWT. Sanggup  pula mendedahkan rahsia rumah tangga kepada  orang  luar.
Tidak lama selepas  itu, Nabi Ismail berkahwin lagi. Setelah  sekian lama,  Nabi  Ibrahim  datang lagi ke Makkah  dengan  tujuan menziarahi  anak dan menantunya. Berlakulah lagi pertemuan  antara mertua dan menantu yang saling tidak mengenali.
Nabi Ibrahim :  Dimana suamimu?
Menantu :  Dia tiada dirumah. Dia sedang memburu.
Nabi Ibrahim :  Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga? Mudah-mudahan dalam kesenangan?
Menantu :  Syukurlah kepada tuhan, kami semua  dalam  keadaan sejahtera, tiada apa yang kurang.
Nabi Ibrahim :  Baguslah kalau begitu.
Menantu :  Silalah  duduk  sebentar.  Boleh  saya  hidangkan sedikit  makanan.
Nabi Ibrahim :  Apa pula yang ingin kamu hidangkan?
Menantu :  Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.
Nabi Ibrahim :  (Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku!  Berkatilah  mereka dalam makan minum mereka. (Berdasarkan peristiwa  ini, Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah
berkat doa Nabi Ibrahim).
Nabi Ibrahim :  Baiklah, nanti apabila suamimu  pulang,  sampai- kan salamku kepadanya. Suruhlah dia menetapkan  tiang pintu rumahnya sebagai kiasan untuk  mengekalkan isteri Nabi Ismail).
Apabila  Nabi Ismail pulang daripada berburu, seperti  biasa dia bertanya sekiranya sesiapa datang datang mencarinya.
Nabi Ismail :  Ada sesiapa datang semasa aku tiada di rumah?
Isteri :  Ya,  ada.  Seorang  tua yang  baik rupanya dan perwatakannya sepertimu.
Nabi Ismail :  Apa katanya?
Isteri :  Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail :  Apa jawapanmu?
Isteri :  Aku nyatakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik, tiada apapun  yang kurang. Aku ajak juga dia makan  dan minum.
Nabi Ismail :  Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri :  Ada, dia berkirim salam buatmu dan  menyuruh kamu mengekalkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail :  Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku. Tiang  pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku kekalkan.
Isteri :  Alhamdulillah, syukur.

Bagaimana pandangan pembaca tentang petikan sejarah ini? Kisah sejarah ini sungguh menyentuh jiwa. Anda juga  tentu  merasai  dan  mengalami  sendiri  ujian   hidup berumahtangga  yang  sentiasa  perlukan  kesabaran.
Berpandukan sejarah  tersebut, bolehlah kita tegaskan kepada  diri sendiri bahawa isteri solehah itu sepatutnya ‘sabar di hati dan syukur pada wajah’. Daripada sini akan terpancar ketenangan setiap kali  suami  berhadapan dengan  isteri  solehah. Isteri solehah tidak cerewet  dan  tidak mudah merungut. Isteri solehah hendaklah sentiasa bersyukur dalam keadaan senang  mahupun  susah  supaya  Allah  tambahkan  lagi rahmat-Nya seperti firman-Nya yang bermaksud:
“Sesungguhnya  jika  kamu  bersyukur,  pasti  Aku tambahkan  nikmat-Ku kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.”  (Surah Ibrahim, ayat 7)
Untuk menambahkan kegigihan kita berusaha menjadi isteri solehah, ingatlah hadith Rasulullah yang bermaksud:
“Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui daripada  kaum wanita, bahawasanya taat kepada suami serta mengakui  haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi sangat sedikit sekali golongan kamu yang dapat melakukan demikian.”
(Riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)
Begitulah,  untuk  menyediakan  diri  sebagai isteri solehah,  hati  kita  hendaklah sentiasa  dipenuhi  dengan  kasih sayang rabbani. Contoh teladan yang sepatutnya jadi rujukan kita ialah sejarah kehidupan nabi serta orang soleh.
http://mujahidahpemburusyahid.blogspot.my/

January 18, 2016

Lensa Aswad : Rehlah di Taman Botani

Posted by - 0 comments

Assalamualaikum, sedikit perkongsian dari lensa Aswad (Camera Dslr canon bernama Aswad).

Berkesempatan rehlah bersama rakan-rakan usrah teh tarik tempoh hari. 
Sangat banyak perubahan Bukit Cerakah / Taman Botani Shah Alam berbanding awal tahun lepas.
Kawasan makin cantik, kemas dan bersih. Sistem pengurusan makin terurus, kedai membeli makanan semakin banyak pilihan. Hendak menaiki basikal tidak lagi perlu beratur lama. 

Harga Parking : Rm3.00
Harga Tiket Masuk : Rm3.00
Harga Berbasikal : Rm 10.00, RM1.00 per extra hour. 
Dan banyak lagi aktiviti lain yang boleh pengunjung nikmati. 
Pintu Masuk tersergam indah

Menenangkan

Bersih dan Kemas
Tempat Wajib dikunjungi (Rumah Pokok)

Picnic sambil berusrah di rumah pokok
Ninja sebati bersama alam

Melalui titian gantung, utuh.

candid katanya

Pandangan terima kasih mungkin...?

 Sang monyet mengutip sesuap keropok ikan

Monolog dari Alam...

Akhirnya kepura-puraan akan nampak juga,
Kepalsuan akan nyata juga....
Hati mulai sakit dan menyendiri...

"Sabarlah manusia memang begitu, hanya memberi manfaat bila mahu manfaat..." -monyet

"Aku manusia.... merasa sering dimanfaatkan..."

"Sebab kau pun begitu...?" -monyet

"Ya, Tapi kenapa mesti tersisih..?"

"Sebab hatimu terlalu byk ruang utk manusia, lebih byk memikirkan manusia dari tuhan, lebih byk menghibur insan dari tuhan, lebih suka ibadah utk manusia berbanding Tuhan..." -monyet

"😔....."

"Bermuhasabah la, ada niat yg sudah lari, 
Ada iman mulai runtuh.
Mahu bahagia dgn dekat dgn manusia, itu sementara. Sebab dikau tidak akan tahu yang mana satu palsu, yg mana satu tipu.
Raih lah bahagia dengan mengenal Allah, dekat dgn-Nya, yang sakitnya dtg dari manusia tidak akan ada makna lagi..." -monyet







December 15, 2015

Niqab dan Isu yang tidak pernah basi

Posted by - 0 comments
Assalamualaikum.

Disepertiga malam, tekun membaca satu penulisan ilmuan, soal isu yang tampaknya tidak pernah habis.
Niqabis itu dan ini. Malangnya di ruangan komentar, yang dirasakan hanya kebencian dan permusuhan, yang ada banyak cuma cercaan dan dokongan yang tidak sudah. Solusi masih samar sejak dulu tiada kelihatan.

"Kasihan Niqabi..." Bisikku perlahan, merenung jauh sepanjang jalan bersama pakaian ini, air mata mulai hening di kelopak mata. Bukan kerana sakit akan tomahan, tapi merenung bibit sukar dan sakit sepanjang memakainya. Hanya yang bergelar niqabi sahaja yang memahami, bukan mudah melalui jalan itu. Kasihan pada anak muda, yang mula mempelajari, menyintainya, takut dan gentar akhirnya dek kebingungan dan kekeliruan yang dilemparkan sesama ilmuan sendiri. Sepatutnya, jika terlihat salah, kita menghulur tangan membantu, ajarkan yang tampak silap, bukan terus-terusan mencerca seolah niqab itu bom tangan yang hanya bakal memusnahkan fitrah pemakainya...


Kelopak Air mata mulai kering, tidak jadi memperlihatkan diri.
Ada kekuatan yang mulai lahir, jika banyak tangan yang mengusir, jika banyak mulut yang mengherdik, biarlah diri yang hina ini menjadi tangan dan mulut yang memanggil... " Kita masih ada peluang, kerana Allah tetap sayang...."




Kita sama-sama pendosa, jika kita fahami hakikat itu, kita tidak akan rela terus-terusan menjadi semacam tuhan yang suka memberi murka dan hukuman.





















Perkongsian di fb ini saya kongsikan ;
Kasihan niqabi, dengan isu yang nampaknya tidak pernah basi.
Patutlah makin hari makin ramai sahabat mengambil keputusan membuka niqab, "Masih belum kuat" kata sekalian adinda. Diri yang hampir 6 tahun menyarungnya saja lahir tanda tanya, sampai kapan mampu bertahan.

Tomahan dan kritikan tak sudah, dari satu isu ke satu isu. Dari isu warna baju hingga isu upload gambar.
Walaupun bukan 'direct' pada individu, tapi sebagai niqabi umumnya, yang pasti tempiasnya tercalit pada semua.

Muslimah yang baru belajar mempelajari dan menyintainya, namun pakaian itu disentap dari mereka. Takut dan gentar dek kebingungan dan kekeliruan yang dilemparkan sesama ilmuan sendiri. 
Sepatutnya, bersatu memberi bantuan agar mereka istiqamah memakainya bukan memaksa mereka membukanya; ajarkanlah yang tampak silap, bukan terus-terusan menjatuhkan & mencerca seolah niqab itu bom tangan yang hanya bakal memusnahkan fitrah pemakainya... 

Akhirnya niqab itu tercabut jatuh bersama air mata, peliknya senyap sunyi sudah 'singa2' yang menerkam pada mulanya. 

Adakah seluruh wanita berniqab yg tidak sedap dipandangan matamu, mencabut niqabnya baru lahir kepuasan hatimu..?

Terkaman hebat sana sini, kata itu fitnah ini fitnah, sedangkan yg menyebar dan meluas fitnah itu mereka sendiri. Yang kecil diperbesarkan, yang dingin diperhangatkan. Sibuk dan lantang sentap menyentap, keluar hujah ilmu dan fakta, tapi tidak pun membantu mahupun menyediakan solusi...!
Yang ada cuma celaan dan hujah berbalas tubi.

Wanita ini bukankah lembut lahirnya...?
Jika rasa tahu, ajarilah bukan diejek
Jika rasa tersimpang, ajak lah bukan diusir,
Jika rasa ada ilmu, didik lah bukan mengherdik.

Jangan terus dimusuhi tanpa cuba memahami...
Rasulullah sendiri mendoakan musuhnya,
kenapa kita tega menzalimi saudara sendiri?

Bukankah wanita itu umpama tulang rusuk, sekirannya engkau berusaha membetulkannya (dengan kasar) ia akan patah. Sekiranya engkau membiarkannya, ia akan berterusan bengkok atau bertambah bengkok. 
(HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

" Umpamakan begini...
Seseorang datang bertemu mu membawa teguran dengan menjerit-jerit sambil mengherdik dan menghinamu, tangannya pula membalingmu batu kerikil yang tajam. Pasti dikau akan amuk, marah, memberontak atau membalasnya bukan...?
Jika di situasi itu perempuan, mungkin saja dia lari menangis dan bakal membencimu, jangan kata baling batu, kata2 sinis saja bisa membuatkannya dendam seumur hidup kepadamu...! "

Begitulah dalam teguran dan nasihat mahupun yang dipanggil dakwah. Biar bijak membawa kata. Bukan semua malah hanya sebahagian kecil yang mampu menghadam teguran sekeras itu. Pada akhirnya, masalah atau isu itu tidak pun mempelihatkan keberhasilannya, malah yang terdidik hanyalah api kebencian dan permusuhan yang tak sudah.

Jika makian dan hinaan diolah sebagai nasihat, 
Tidak peliklah jika hanya pemberontakan yang bakal diterima, lebih2 lagi dari akal yang 1 dikelilingi 9 nafsu.

Ketahuilah, 
Disebalik insan yang berniqab itu, 
Ada hati yang sedang bermujahadah melawan nafsu yang meronta hendakkan dunia.
Ada jiwa yang bergelut untuk istiqamah berselindung, dari bisikan syaitan yang merayu menuruti dosa, malah makin dasyat dan licik langkahnya mengotori niqab yang asalnya suci itu..
Tidak hairanlah jika sesekali terlihat kepincangan dari pemakainya. Jangan dilihat kesilapan seseorang seperti keaiban & dosa yang amat besar, sehingga merasa murka kepada pelaku seperti tuhan, padahal kita juga melakukan dosa dan keaiban, cuma dalam bentuk yang tidak sama. Tapi Allah masih menutupnya dari penglihatan orang lain.

Hari ini, tika kita seronok menyebut2 kesilapan dan kejahilan orang, jangan sesekali lupa Allah Maha Pengampun, Maha Menerima Taubat. 
Kita tidak tahu kedudukan kita disisi Allah, yang kita hina-hinakan mungkin lebih tinggi kedudukannya. Malah, kita sendiri belum tahu, solat kita diterima atau tidak...

Jika kita x mampu mengubah dengan baik atau tidak mampu menyediakan solusi dalam sesuatu perkara, just please don't make it worse. Jika dicari cara hikmah tidak ketemu, mafkan dan doakan, bukakah itu lebih baik dari melayan tindakan api amarahmu...

Kata-kata ini, akan dihadapkan di hadapan Allah kelak, akan ditanya dan dipertanggungjawabkan.
Begitu juga seluruh bait tulisan & katamu pada insan, apatahlah yang sudah disakiti. Bukan mahu turut menyakiti, tapi ajak bermuhasabah hakikat kita hanya hamba dan pendosa tegar.

Ayuh betulkan persepsi ;

"Pakai purdah tidak boleh upload2 gambar selfie dan menggoda."
"Pakai purdah tidak boleh pakai blink2 @ warna terang2."
"Pakai purdah mesti tudung labuh, baju x boleh ikut body."
"Pakai purdah mana boleh tabarruj."
"Pakai purdah mesti jaga ikhtlat, pergaulan."
"Pakai purdah mesti jaga sifat malu."
"Pakai purdah mesti sopan santun jaga akhlak."
"Pakai purdah mesti bersederhana...!"
"Pakai purdah mesti ada ilmu...!"

Eh!

- Tidak boleh upload2 gmbr selfie dan menggoda,
- Pakaian tidak menonjol, 
- Tudung dilabuhkan dan tak ikut bentuk tubuh,
- Tidak tabarruj,
- Jaga pergaulan,
- Jaga sifat malu,
- Sopan, Jaga adab dan akhlak,
- Bersederhana,
- Tuntut Ilmu...

Suruhan itu bukan bila pakai purdah atau yang bertudung labuh saja...!
Tapi tuntutan itu pada SEMUA yang namanya perempuan @ wanita @ muslimah.
Mengakui "aku seorang wanita beragama islam",
Tuntutan itu WAJIB berusaha dipatuhi...!

Niqab di akhir zaman ini ;
Bukan dipakai kerana pemakai itu rasa suci atau baik,
Tapi kerana merasakan dirinya adalah pendosa tegar, yang mengejar kasih dan merayu ampun tuhannya.
Bukan dipakai kerana mereka kuat atau hebat,
Hakikatnya, merekalah wanita paling lemah, berselindung di balik kain dari kejahatan dunia yang semakin tua. 
Hakikatnya, jangan pandang niqabi seperti bidadari seolah tidak boleh melakukan khilaf, tapi pandanglah mereka seperti dirimu sendiri, jatuh tersadung berulang kali dalam berjuang menuju Allah... Yang pasti peluang sentiasa ada InShaaAllah... :')

Apa pun bentuk pakaian atau penampilan,
Itu bukan tiket apatah lagi satu jaminan.
Itu hanya satu bentuk usaha dalam banyak usaha lainnya. Purdah itu satu pilihan dalam banyak pilihan lainnya, hormati pilihan orang lain, sejauh mana mahu orang lain menghormati pilihan kita.

Tidak guna saling terus bertelagah, pada akhirnya kita sama-sama mahukan kebaikan juga. Jangan mencari musuh, kerana pasti diakhirat yang kita harap-harapkan bukan musuh tapi sahabat jua...

Saling sayang, ajak dan seru pada kebaikan dengan kebaikan, dunia sudah sangat penuh dengan kekejaman, kekerasan dan penghinaan, sudah-sudahlah mendidiknya dan membawanya ke dalam masyarakat...

Ayuh tanya pada hati yang paling dalam ;
Biarkan Iman yang menjawabnya...

"Purdah ini dipakai untuk siapa...?"

Bukan itu saja... 

Mari semua tanya pada diri ;

"Seluruh pakaian ditubuhku ini, 
Baju ini, serban @ tudung ini utk siapa...?"

Tanya kan lagi...

"Aku hidup untuk siapa...???"

Jangan culas mencari jawapan, kerana imanmu akui jawapannya... ALLAH TAHU... :')

Semoga Allah memberi ampun pada kita hamba-Nya yang sering menyakiti hamba-Nya yang lain.. Aamin

#MohonMaaf #RaihlahPendapatku #DenganIzinAllah #JomMuhasabah #TajdidNiat #AllahTahu

Sahabat...

.......

 

Cahaya Malam Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos